K a b i s a t  B l o g

Home

About Me

Contacts

 
 
 
 

     

Hot Links

Rabindranath Tagore

dilahirkan tahun 1861 di Calcuta , India dan berasal dari keluarga yang sangat mencintai seni. Tahun 1877 ia menuntut ilmu di Inggris, tapi tidak selesai dan kembali ke India . Karya Tagore meliputi 50 drama, 100 kumpulan puisi, 40 kumpulan cerpen dan roman, serta sejumlah buku esei dan filsafat. Sekitar 12 karyanya telah diterbitkan dalam bahasa Indonesia, termasuk kumpulan puisi religius Gitanjali (Pustaka Dian Rakyat, Edisi Revisi 1995). Karya ini sering dianggap sebagai karya puncak tagore. Tagore menerima Hadiah Nobel untuk kesusastraan tahun 1913 dan tahun 1915 menerima gelar kebangsawanan Sir kerajaan Inggris. Ia meninggal tahun 1941.

 
Ratih Kumala
Arya Teja
Eka Kurniawan
Helvy Tiana Rosa
Pidi Baiq
Joko Pinurbo
Pena Kencana
  Jiffest
Panggilan Hidup
 
Jika gong berdengung sepuluh kali di pagi hari dan aku berjalan menuju sekolah, bertemulah aku setiap hari dengan penjual kelontong yang berteriak, “Manik! Manik batu!”
Tidak ada yang memburu dia, tak ada jalan yang harus ditempuh, tak ada tempat kemana ia harus pergi.
Aku ingin jadi penjual kelontong yang menghabiskan hari-harinya di jalanan sambil berteriak, “Manik! Manik batu!”
Jika sore hari pukul empat aku pulang dari sekolah, kulihat dari gerbang masuk tukang kebun sedang menyabit rumput di halaman.
Ia bekerja sesuka hatinya, mengotori bajunya dengan debu, berjemur di bawah matahari, kehujanan tanpa seorang pun melarangnya.
Aku ingin jadi tukang kebun yang bekerja sesuka hati, dan tak seorang pun melarangku. Jika malam tiba dan ibu menyuruhku tidur, kulihat lewat jendela, peronda malam bolak-balik di gang. Jalanan gelap, dan sepi, dan lampu pasar tegak bagai raksasa bermata merah di tengah kepalanya. Peronda itu berjalan membawa lampunya bersama bayang-bayangnya, dan ia tak pernah tidur selama hidupnya.
Aku ingin jadi peronda dan berjalan di jalanan sepanjang malam sambil menghalau bayang-bayang dengan lampuku.
 
(Terj. Abdul Hadi W.M)
In-Docs
One.Org
World Silent Day
Perkin

Entertainment

Stasiun TV
Rumah Produksi

Media Massa

Radio

Read More Puisi Nobel >>>

 
 
       
 
Demokrasi Warung Nasi
 
kudengar suara hirukpikuk gunjingan kerumunan orang di warung nasi. obrolan begitu santai, bebas, demokrasi, tidak ada undangundang dan pasalpasal tuli di situ. dengan interior ala kadarnya. pisang raja, kerupuk rambak, permen sugus, rempeyek, dan bermacammacam gorengan palawija tertuang dalam piring kaca yang kelihatan sudah retak dan agak berjamur.
 
beraneka ragam mulut ikut memeriahkan demokrasi warung nasi. mulai dari politik, ekonomi, sosial, budaya, sastra, seni, kriminal, sex, sawah, sepak bola, kantor, togel, sampai tetekbengek lainnya yang tidak dapat dihitung dengan bilangan jari dua puluh + satu jari tengah.
 
kemarin aku dengar anu, ini, iti, itu, siapa, kenapa, kapan ,dimana, si anu, si iti, si itu, ber anu, ber itu, di anu, di itu
 
d i........
                                                      t i.......
                                                                  p u.......
 
pulang ke rumah, mereka semua merasakan mules diperutnya. muak, muntah, mencret, disentri bersarang rakus di istana mulut. hingga terjadi pergunjingan mulut ke telinga semua orang. suara itu menyebar ke semua telinga. telingatelinga. di balik telinga tuli yang terperangkap suara telingatelinga. sampai terdengar ke telinga pemilik warung nasi, ke telinga petani palawija, ke telingatelinga yang membutakan semua telinga. hingga semua gendang telinga itupun tibatiba terkejut mendengar suara menyapanya dari balik jendela :
 
“lebih baik kita puasa saja, nggak usah makan suara yang sudah basi itu.
kita kembali bertapa saja di goa, hanya berdoa dan memuja-muja para Dewa”
 
Bandung, 1999
(Jurnal Puisi, No 9 September 2002)

Read More Sajak >>>

 
 
 
       
 

Karena Kami Burung

Entah kenapa, semenjak kecil sesepuh kami begitu gemar mengelus-elus sayap. Bagi sesepuh kami sekepak sayap berwarna putih, bersih, bergradasi halus seperti kuntum melati ini melebihi dari segala apa saja yang ada di dunia. Maka tak heran setiap menjelang sore, ketika senja sudah menampakkan kilauan warna jingga dari balik cakrawala, kami selalu diajak mendaki puncak bukit yang kebetulan tidak begitu jauh dari pusat perkampungan. “Terbanglah nak, kamu tidak boleh takut ketinggian, kamu harus bisa terbang, karena kamu semua seekor burung. Kelak kamu akan bisa melihat dari dekat indahnya siluet matahari, hamparan luas lautan, kelak kamu juga bisa melihat semesta alam raya beserta isinya ini dengan mata terbuka. Sebuah negeri baru. Sebuah negeri tanpa peta yang sebelumnya tidak pernah kamu temu dalam bahasa buku. ”
 
 
Begitulah. Setiap hari kami mulai tak bosan-bosannya belajar terbang dari puncak ketinggian. Setiap pagi, siang, sore, dan malam, sepertinya waktu kami hanya tersita untuk memenuhi keinginan sesepuh. Bahkan disaat sesepuh sedang sibuk banyak kerjaan, kami sudah sering pergi sendiri ke puncak bukit sambil mengibas-ibaskan sayap dalam perjalanan. Kadang ada juga sebagian tetangga yang menertawakan dan mengatakan kami anak gila. Tapi semua ejekan itu sedikitpun tak kami gubris. Yang penting kami bisa terbang. Karena kami seekor burung. Titik!  
φφφ
Dari ketinggian puncak bukit dekat rumah itu perlahan kami semua sudah mulai bisa mengepakkan sayap sampai berjarak lima kilo meter. Lumayan, walau tubuh kami memar dan banyak goresan luka, ahirnya keinginan sesepuh terpenuhi juga. Selain itu kami juga bisa meringankan sedikit beban ekonomi keluarga. Sepeda yang biasanya kami pakai, sekarang dijual untuk keperluan dapur. Lagian kami bisa pergi ke sekolah, bermain, belanja ke pasar, atau pergi ke mana-mana hanya dengan terbang mengepakkan sayap. Sampai-sampai hampir semua tetangga yang dulunya mengejek dan mengatakan kami anak gila ahirnya tergiur juga ingin belajar terbang. Hingga dalam kurun waktu singkat—kebiasaan buruk di negeri kami yang terkenal dengan berjudi, berkelahi, mencuri, dan serentetan bromo corah lainnya berangsur-angsur lenyap. Seperti keajaiban. Ya, mungkin kami semua sudah bosan dengan kebohongan. Kami semua sudah muak dengan kejahatan. Kami semua juga sudah jengkel dengan segala macam dalih keserakahan. Karena kami semua burung. Kami semua sekarang sudah menjadi hamba burung. Dalam benak kami menyimpan keinginan keras hanya ingin menghirup udara kebebasan sembari melempar selendang kepada awan dengan senyuman, “wahai awan, sekarang kami semua sudah bisa terbang, kami semua sekarang sudah menjadi burung,” teriak kami di puncak bukit seraya mengepakkan sayap kami yang berwarna-warni. Seperti warna pelagi yang selalu mengilhami penyair menjadi bait-bait puisi.  
φφφ
Karena kami burung. Kamipun mulai terbang bersama-sama mengikuti arah mata angin. Mulai daerah kutub bagian paling utara, barat, timur, sampai selatan, kiranya semua sudah pernah kami kunjungi. Kami sering bercumbu rayu melepas lelah—untuk sementara kami singgah sembari istirah mengumpulkan galah. Mendirikan pilar-pilar penyangga. Membangun sebuah bilik kecil dengan hiasan manik-manik jiwa.
“Lihatlah saudara, kawasan ini kami namakan sabang merauke,” kata saudara kami dari barat. Terus saudara kami dari utara menjulukinya dengan nama sejuta anak pulau. Saudara kami satunya lagi dari selatan memberi nama bhinneka tunggal ika. Kemudian saudara kami yang baru datang dari timur mengasih jabatan dengan titel Raden Mas “Indonesia” gemah ripah loh jinawi.
Karena kami burung. Kamipun selalu terbang bersama-sama menenteng beragam ideologi. Asalkan satu misi dan satu visi, tidak ada bedanya bagi kami. Kami sering terbang bersama-sama dari ranting satu ke ranting yang lain. Hinggap dari suku satu ke suku yang lain. Dari budaya satu ke budaya yang lainnya pula. Dan jujur saja, dengan segala kerendahan hati yang paling dalam kami akui, kadang di antara kami masih kesulitan bisa berkomunikasi dengan gamblang. Lantaran adat istiadat kami berbeda. Agama, lidah, serta warna sayap kamipun juga berbeda. Ada saudara kami yang datang dari pelosok desa hanya telanjang dada mengenakan koteka. Ada juga saudara kami yang berada di kota metropolitan sudah mengenakan model baju dan celana funky ala eropa. Kadang ada perasaan was-was pada diri kami kalau terjadi salah paham. Hanya karena masalah sepele kurang seragam menafsirkan rasa garam.
Karena kami burung. Sukurlah semua permasalahan bisa kami atasi dengan isarat bahasa burung. Sampai pada ahirnya kami semua sepakat. Bahwa kami semua hanya butuh pengayoman. Kami semua hanya butuh kedamaian. Kami semua hanya butuh kebebasan. Itu yang paling penting. Kami semua juga sepakat kalau bahasa nasional yang sekarang kami gunakan adalah bahasa burung. Budaya yang kami gunakan sekarang juga budaya burung. Karena kami semua hamba burung. Kami ingin bebas menabuh genderang sekeras mungkin di sepanjang bayang-bayang pagi, siang, sore, dan malam. Kami juga ingin bebas menebarkan taburan wangi kembang ke tempat di mana nantinya kami sekeluarga bisa tidur dan bersemayam dengan tenang. Kami tidak ingin lagi mendengar suara bising dar-der-dor peluru senapan, dentuman bunyi meriam, suara rintihan kesakitan saudara kami yang menderita kelaparan, kecolongan sarang, kehilangan keluarga maupun sanak saudara hanya karena salah sasaran aparat keamanan melesatkan peluru senapan dengan garang. Tanpa memperdulikan arah kicauan teman atau lawan.
Karena kami burung. Hidup kamipun menggantung. Terbang kamipun membumbung. Suara kamipun mendengung. Tapi jangan salah sangka kami tidak punya ideologi. Suara kami jujur dari hati. Tulus tanpa dipaksa. Rela tanpa direkayasa. Karena kami bisa meraba kemana datang dan perginya warna suara, kami bisa mendengar arah mata angin, membaca gerak-gerik awan—yang tiba-tiba saja timbul tenggelam—datang dan pergi tanpa pamitan. Selama berpuluh-puluh tahun kami sudah sering terbang membumbung tinggi, hingga menjadikan hidup kami yang penuh misteri dan teka-teki ini lebih terfahami—Bahwasanya tidak ada sesuatu yang lahir dari ketiadaan. Mustahil yang ada lahir dari kehampaan. Dengan kata lain mesti ada sesuatu di balik yang ada. Yakni Tuhan. Dan kesemuanya itu tidak bisa kami pungkiri :Bahwa “Agama ageming ati.”
Karena kami burung. Bagi kami hidup ini sebuah transformasi permenungan dari ritus perjalanan yang sangat panjang. Maka ijinkan kami terbang melanglang setinggi mungkin. Bernyanyi, tertawa, menangis, berteriak, menjerit, merintih, berdo’a, dan bersembunyi sampai ke semak belukar pusaran awan. Hingga ahirnya kami semua benar-benar menjelma jadi maha malam. Diam. Tenggelam. Hingga memahami makna hitam. Di cakrawala keheningan paling dalam.
Karena kami burung.
 
Solo, Mei 2003
(15 Cerpen Terbaik Lomba Cerpen Perdamaian Nasional, Citra Kasih, 2003)
 
 
 
             
  Puisi Nobel Sajak Stasiun TV Rumah Produksi Media Massa Radio  
    Design by Allegra. Proudly Powered by Web Page Maker. 2009.