| |
 |
Karena Kami Burung
-
Entah kenapa,
semenjak kecil sesepuh kami begitu gemar mengelus-elus sayap. Bagi
sesepuh kami sekepak sayap berwarna putih, bersih, bergradasi halus
seperti kuntum melati ini melebihi dari segala apa saja yang ada di
dunia. Maka tak heran setiap menjelang sore, ketika senja sudah
menampakkan kilauan warna jingga dari balik cakrawala, kami selalu
diajak mendaki puncak bukit yang kebetulan tidak begitu jauh dari pusat
perkampungan. “Terbanglah nak, kamu tidak boleh takut ketinggian, kamu
harus bisa terbang, karena kamu semua seekor burung. Kelak kamu akan
bisa melihat dari dekat indahnya siluet matahari, hamparan luas lautan,
kelak kamu juga bisa melihat semesta alam raya beserta isinya ini dengan
mata terbuka. Sebuah negeri baru. Sebuah negeri tanpa peta yang
sebelumnya tidak pernah kamu temu dalam bahasa buku. ”
|
|
| |
-
Begitulah. Setiap hari
kami mulai tak bosan-bosannya belajar terbang dari puncak ketinggian.
Setiap pagi, siang, sore, dan malam, sepertinya waktu kami hanya tersita
untuk memenuhi keinginan sesepuh.
Bahkan disaat
sesepuh sedang sibuk banyak kerjaan, kami sudah sering pergi sendiri ke
puncak bukit sambil mengibas-ibaskan sayap dalam perjalanan. Kadang ada
juga sebagian tetangga yang menertawakan dan mengatakan kami anak gila.
Tapi semua ejekan itu sedikitpun tak kami gubris. Yang penting kami bisa
terbang. Karena kami seekor burung. Titik!
- φφφ
-
Dari ketinggian
puncak bukit dekat rumah itu perlahan kami semua sudah mulai bisa
mengepakkan sayap sampai berjarak lima kilo meter. Lumayan, walau tubuh
kami memar dan banyak goresan luka, ahirnya keinginan sesepuh terpenuhi
juga. Selain itu kami juga bisa meringankan sedikit beban ekonomi
keluarga. Sepeda yang biasanya kami pakai, sekarang dijual untuk
keperluan dapur. Lagian kami bisa pergi ke sekolah, bermain, belanja ke
pasar, atau pergi ke mana-mana hanya dengan terbang mengepakkan sayap.
Sampai-sampai hampir semua tetangga yang dulunya mengejek dan mengatakan
kami anak gila ahirnya tergiur juga ingin belajar terbang. Hingga dalam
kurun waktu singkat—kebiasaan buruk di negeri kami yang terkenal dengan
berjudi, berkelahi, mencuri, dan serentetan bromo corah lainnya
berangsur-angsur lenyap. Seperti keajaiban. Ya, mungkin kami semua sudah
bosan dengan kebohongan. Kami semua sudah muak dengan kejahatan. Kami
semua juga sudah jengkel dengan segala macam dalih keserakahan. Karena
kami semua burung. Kami semua sekarang sudah menjadi hamba burung. Dalam
benak kami menyimpan keinginan keras hanya ingin menghirup udara
kebebasan sembari melempar selendang kepada awan dengan senyuman, “wahai
awan, sekarang kami semua sudah bisa terbang, kami semua sekarang sudah
menjadi burung,” teriak kami di puncak bukit seraya mengepakkan sayap
kami yang berwarna-warni. Seperti warna pelagi yang selalu mengilhami
penyair menjadi bait-bait puisi.
- φφφ
-
Karena kami burung.
Kamipun mulai terbang bersama-sama mengikuti arah mata angin. Mulai
daerah kutub bagian paling utara, barat, timur, sampai selatan, kiranya
semua sudah pernah kami kunjungi. Kami sering bercumbu rayu melepas
lelah—untuk sementara kami singgah sembari istirah mengumpulkan galah.
Mendirikan pilar-pilar penyangga. Membangun sebuah bilik kecil dengan
hiasan manik-manik jiwa.
-
“Lihatlah saudara,
kawasan ini kami namakan sabang merauke,” kata saudara kami dari barat.
Terus saudara kami dari utara menjulukinya dengan nama sejuta anak pulau.
Saudara kami satunya lagi dari selatan memberi nama bhinneka tunggal ika.
Kemudian saudara kami yang baru datang dari timur mengasih jabatan
dengan titel Raden Mas “Indonesia” gemah ripah loh jinawi.
-
Karena kami burung.
Kamipun selalu terbang bersama-sama menenteng beragam ideologi. Asalkan
satu misi dan satu visi, tidak ada bedanya bagi kami. Kami sering
terbang bersama-sama dari ranting satu ke ranting yang lain. Hinggap
dari suku satu ke suku yang lain. Dari budaya satu ke budaya yang
lainnya pula. Dan jujur saja, dengan segala kerendahan hati yang paling
dalam kami akui, kadang di antara kami masih kesulitan bisa
berkomunikasi dengan gamblang. Lantaran adat istiadat kami berbeda.
Agama, lidah, serta warna sayap kamipun juga berbeda. Ada saudara kami
yang datang dari pelosok desa hanya telanjang dada mengenakan koteka.
Ada juga saudara kami yang berada di kota metropolitan sudah mengenakan
model baju dan celana funky ala eropa. Kadang ada perasaan was-was pada
diri kami kalau terjadi salah paham. Hanya karena masalah sepele kurang
seragam menafsirkan rasa garam.
-
Karena kami burung.
Sukurlah semua permasalahan bisa kami atasi dengan isarat bahasa burung.
Sampai pada ahirnya kami semua sepakat. Bahwa kami semua hanya butuh
pengayoman. Kami semua hanya butuh kedamaian. Kami semua hanya butuh
kebebasan. Itu yang paling penting. Kami semua juga sepakat kalau bahasa
nasional yang sekarang kami gunakan adalah bahasa burung. Budaya yang
kami gunakan sekarang juga budaya burung. Karena kami semua hamba burung.
Kami ingin bebas menabuh genderang sekeras mungkin di sepanjang
bayang-bayang pagi, siang, sore, dan malam. Kami juga ingin bebas
menebarkan taburan wangi kembang ke tempat di mana nantinya kami
sekeluarga bisa tidur dan bersemayam dengan tenang. Kami tidak ingin
lagi mendengar suara bising dar-der-dor peluru senapan, dentuman bunyi
meriam, suara rintihan kesakitan saudara kami yang menderita kelaparan,
kecolongan sarang, kehilangan keluarga maupun sanak saudara hanya karena
salah sasaran aparat keamanan melesatkan peluru senapan dengan garang.
Tanpa memperdulikan arah kicauan teman atau lawan.
-
Karena kami burung.
Hidup kamipun menggantung. Terbang kamipun membumbung. Suara kamipun
mendengung. Tapi jangan salah sangka kami tidak punya ideologi. Suara
kami jujur dari hati. Tulus tanpa dipaksa. Rela tanpa direkayasa. Karena
kami bisa meraba kemana datang dan perginya warna suara, kami bisa
mendengar arah mata angin, membaca gerak-gerik awan—yang tiba-tiba saja
timbul tenggelam—datang dan pergi tanpa pamitan. Selama berpuluh-puluh
tahun kami sudah sering terbang membumbung tinggi, hingga menjadikan
hidup kami yang penuh misteri dan teka-teki ini lebih terfahami—Bahwasanya
tidak ada sesuatu yang lahir dari ketiadaan. Mustahil yang ada lahir
dari kehampaan. Dengan kata lain mesti ada sesuatu di balik yang ada.
Yakni Tuhan. Dan kesemuanya itu tidak bisa kami pungkiri :Bahwa “Agama
ageming ati.”
-
Karena kami burung.
Bagi kami hidup ini sebuah transformasi permenungan dari ritus
perjalanan yang sangat panjang. Maka ijinkan kami terbang melanglang
setinggi mungkin. Bernyanyi, tertawa, menangis, berteriak, menjerit,
merintih, berdo’a, dan bersembunyi sampai ke semak belukar pusaran awan.
Hingga ahirnya kami semua benar-benar menjelma jadi maha malam. Diam.
Tenggelam. Hingga memahami makna hitam. Di cakrawala keheningan paling
dalam.
-
Karena kami burung.
-
-
Solo, Mei 2003
-
(15 Cerpen Terbaik
Lomba Cerpen Perdamaian Nasional, Citra Kasih, 2003)
|
|